Analisis Faktor Risiko Stunting di Jawa Timur Menggunakan Geographically Weighted Regression
Keywords:
Stunting, Faktor Risiko Stunting, Geographically Weighted Regression, Autokorelasi Spasial, Jawa TimurAbstract
Stunting masih menjadi masalah gizi kronis serius di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, dengan prevalensi yang bervariasi antar kabupaten/kota. Dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif, kemampuan belajar, dan kualitas hidup anak, yang memengaruhi produktivitas dan daya saing sumber daya manusia. Data Survei Status Gizi Indonesia 2024 menunjukkan penurunan provinsi dari 19,2% pada 2022 menjadi 14,7% pada 2024, namun kesenjangan antar kabupaten/kota tetap tinggi. Beberapa wilayah mencatat prevalensi di atas 20%, seperti Jember 30,4%, Lumajang 23,4%, Malang 23,3%, dan Kota Batu 24,5%, sedangkan lainnya di bawah 10%, seperti Lamongan 6,9%, Trenggalek 6,7%, dan Surabaya 8,5%. Hal ini menunjukkan faktor risiko stunting berbeda antarwilayah dan intervensi seragam kurang efektif. Penelitian ini menganalisis faktor risiko stunting di Jawa Timur menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR), yang menangkap variasi spasial dengan koefisien berbeda tiap wilayah sehingga pengaruh lokal lebih akurat dan intervensi dapat disesuaikan. Hasil menunjukkan model GWR lebih efektif dibanding model OLS biasa, dengan
R2 0,434 dan AIC 240,467. Koefisien lokal GWR menunjukkan bahwa pengaruh Balita Gizi Kurang terhadap stunting signifikan terutama di wilayah timur Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Bondowoso, Pamekasan, Situbondo, dan Sumenep, sementara pengaruh Bayi Berat Lahir Rendah dan Persentase Penduduk Miskin bervariasi antar wilayah dan sebagian besar tidak signifikan secara spasial. Hasil ini menegaskan bahwa pemetaan faktor risiko secara spasial sangat penting untuk merancang kebijakan intervensi stunting yang lebih tepat sasaran dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.